Legenda Kerajaan Melayu di Batu Limau Kundur


Legenda Kerajaan Melayu di Batu Limau Kundur


batu limau kundur
Batu Limau di Kundur Karimun Kepri (Foto: HaluanMedia.com)
KUNDUR , HALUAN MEDIA – Bagi masyarakat Kundur dan sekitarnya tentu tidak asing lagi dengan objek wisata Batu Limau. Daerah ini tersohor dengan aneka jenis bebatuannya yang konon mengandung magis. Uniknya, bebatuan tersebut menyerupai aneka bentuk.
Ya, di Batu Limau yang terletak di Desa Batu Limau, Kecamatan Ungar, Kabupaten Karimun sedikitnya terdapat enam bebatuan yang sudah terkenal. Nama bebatuan itu antara lain; (maaf) batu kemaluan laki-laki dan perempuan, batu bilik (dalam bahasa Melayu artinya kamar), batu kapal, batu limau, batu keris, batu pengantin dan banyak lagi lainnya.
Nama objek wisata Batu Limau diabadikan oleh warga setempat sebagai nama desa, yakni Desa Batu Limau, yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Ungar. Sedangkan Kecamatan Ungar sendiri merupakan pemekaran dari Kecamatan Kundur, yang baru saja disahkan dan dipimpin oleh seorang camat bernama Raja Jemishak sejak akhir Desember 2012 silam.
Untuk menjangkau lokasi objek wisata Batu Limau, warga dari luar Pulau Kundur terlebih dahulu transit di  Tanjungbatu, kemudian menuju pelabuhan bot pancung yang memang dikhususkan menuju Pelabuhan Alai dan Sungai Buluh. Perjalanan melalui laut ditempuh sekitar 10 menit dengan tarif Rp3 ribu per orang.
Setibanya di pelabuhan Sungai Buluh atau Alai, pengunjung akan diantar ojek sepeda motor sekitar 10 menit perjalanan dengan tarif  Rp10 ribu. Setelah sampai di lokasi, pengunjung tidak dikenakan tarif alias gratis. Hanya saja, jika pada saat ada acara keramaian atau pesta pantai, maka pengunjung dikenakan biaya pembelian karcis masuk sebesar Rp5 ribu.
Panorama pantai yang dipenuhi dengan bebatuan sangat cocok menjadi alternatif menghabiskan masa liburan dan bersantai bersama keluarga di sana. Dengan memandangi lautan luas yang berbatasan langsung dengan Pulau Penyalai, Kabupaten Indra Giri Hilir (Riau Daratan), pengunjung akan disuguhi aktivitas nelayan yang melaut di sekitar perairan Batu Limau.
Camat Ungar, Raja Jemishak mengatakan, keberadaan bebatuan di objek wisata Batu Limau yang kini diabadikan menjadi nama salah satu desa di kecamatan tersebut, memiliki cerita legenda dan misteri mengenai raja-raja Melayu zaman dahulu.
Diceritakan pria yang akrab disapa Jimi ini, pada zaman raja-raja Melayu dahulu, ada satu rombngan kerajaan Melayu Lingga berlayar dan suatu ketika mereka kehabisan perbekalan air. Melihat di sekitar perairan ada pulau yang cukup besar, sehingga kapal kerajaan tersebut pun merapat.
“Setibanya di pulau tersebut (sekarang bernama Pulau Ungar), anak raja yang perempuan pun ikut turun ke pantai dan menyempatkan diri berkenalan dengan seorang nelayan kampung, yang pada akhirnya mereka saling mencintai namun tak direstui oleh sang raja, karena itu melanggar pantang kerajaan dengan alasan anak raja tidak boleh menikah dengan masyarakat biasa. Atas hal ini putri raja pun jatuh sakit karena cinta yang tak direstui dan setiap hari sakitnya makin parah. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan serta rasa sayang sang raja kepada anaknya, maka direstuilah hubungan anaknya sehingga menikahlah mereka,” ujar Jimi yang juga sebagai putra asli kelahiran dari Pulau Ungar.
Pria kelahiran 1970 ini pun melanjutkan ceritanya, bahwa atas pernikahan anak raja tersebut, ternyata mendapat sumpahan nenek moyang mereka dengan alasan telah melanggar pantang kerajaan, sehingga seluruh rombongan raja yang merapat ke Pulau Ungar termakan sumpah dan menjadi batu, termasuk berbagai perhiasan dan perlengkapan yang dibawa berlayar pada saat itu. Sehingga pada akhirnya hantaran untuk pesta pernikahan anak raja yang di dalamnya terdapat buah limau (dalam bahasa Melayu buah jeruk) ikut menjadi batu, sebagaimana saat ini jika dilihat dari dekat, Batu Limau memang hampir mirip seperti buah kegemaran putri kesayangan raja yang di bawahnya dialas dengan talam (nampan-red).
Demikian pula batu besar yang kini disebut sebagai batu kapal. Selain itu ada batu bilik, batu pengantin, batu lesung  dan banyak lagi.
“Waktu orang tua-tua dulu katanya masih ada pinggan mangkok (piring dan baskom, red) yang masih bisa dipergunakan oleh masyarakat setempat jika ada hajatan atau pesta pernikahan. Sehingga warga pada saat itu pun sangat terbantu dengan peralatan makan peninggalan raja tersebut. Namun sekarang tak ada lagi, katanya ada yang pinjam tapi pada saat dikembalikan jumlahnya berkurang, akhirnya pinggan yang jumlahnya banyak di Batu Limau itu hilang begitu saja dan tidak bisa lagi dipinjam oleh masyarakat setempat,” jelas Jimi.
Luput dari Perhatian
Sampai saat ini, bebatuan yang penuh makna sejarah kerajaan Melayu zaman dahulu masih bisa dilihat dengan jelas, namun sangat disayangkan kondisi objek wisata Batu Limau tampak tidak terawat. Sampah sabut kelapa tampak berserakan di atas pasir pantai dan tidak ada satu pun tong sampah yang disediakan.
Di samping itu, tidak ada tempat berlindung dari terik matahari, sehingga pengunjung terpaksa berteduh di bawah  pepohonan rindang untuk melepaskan lelah. Jika hujan turun, pengunjung terpaksa berteduh di area parkir yang tidak cukup luas.
Tapi pria yang kini memimpin di tanah kelahirannya itu tidak putus asa dan mengaku akan berbuat semampunya, guna memajukan objek wisata di kampung halamannya.
“Ini akan jadi ikon Pulau Ungar dan khususnya Kecamatan Ungar sendiri. Karena kecamatan lain tidak memiliki bebatuan unik seperti ini, sehinga nantinya akan jadi daya tarik sendiri yang kemudian akan bermuara pada pendapatan masyarakat setempat. Banyak pengunjung tentu banyak pembeli sehingga warga pun berkesempatan menjajakan dagangan atau oleh-oleh dari Desa Batu Limau,” ucap Jimi.
Untuk sementara waktu, Jimi mengaku akan melakukan pembangunan fasilitas objek wisata tersebut berupa bangsal atau tempat beristirahat, juga bisa dijadikan sebagai tempat berteduh.
Adapun kendala yang dihadapi saat ini, menurut Jimi adalah panggung rakyat. Jika ada kegiatan atau pesta rakyat, warga terpaksa mendirikan atau sewa panggung dengan biaya yang cukup mahal. Namun jika hal ini dapat diatasi oleh pemerintah melalui Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparbud) Kabupaten Karimun untuk membangun panggung permanen, maka tak perlu lagi mengeluarkan anggaran besar.
“Kalau sudah ada panggung permanen kita akan buat pesta rakyat sebulan sekali. Sehingga wisatawan dari luar pun akan datang ke sini. Usulan ini sudah saya masukkan saat musrenbang kemarin tentang pengembangan objek wisata, mudah-mudahan dipenuhi. Ini juga untuk meningkatkan pemasukan desa,” harap Jimi.
Dijelaskannya pula, setiap hari libur atau akhir pekan, objek wisata Batu Limau selalu dikunjungi, tapi hanya didominasi oleh wisatawan lokal. Hal inilah yang menjadi perhatiannya untuk serius menggarap salah satu situs sejarah kerajaan Melayu tersebut.
Jimi juga menceritakan, pada saat dirinya masih berprofesi sebagai pekerja swasta dan sempat bekerja di Hotel Gembira, dia memiliki strategi tersendiri untuk membuat pengunjung hotel merasa penasaran dan pasti berkeinginan datang ke bebatuan unik itu. Dengan cara mengabadikan semua batu yang ada menggunakan kamera seadanya, kemudian dicetak dengan ukuran besar dan ditempel di setiap sudut hotel, sehingga banyak turis asing terutama dari Singapura dan Malaysia tertarik.
Cara ini menurut Jimi cukup efektif pada saat itu. Sehingga setiap akhir pekan kerap ditemui wisatawan asing yang hanya bersantai atau memang ingin melihat dengan mata kepala mereka bentuk bebatuan unik tersebut.
“Alhamdulillah dengan cara itu tidak sedikit dari turis asing yang minta diantarkan ke Batu Limau, penambang bot pancung pun mendapat penghasilan, karena mereka banyak yang sewa dan bukan naik reguler. Tapi saat ini seiring pengunjung mulai tidak ada, Batu Limau seolah tidak lagi dikenal, padahal ini situs sejarah dan ikon masyarakat Melayu,” tutur Jimi, miris. (gan)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kepulauan Karimun: Kecantikan Bahari di Selat Malaka


Kepulauan Karimun: Kecantikan Bahari di Selat Malaka


Tinjauan

Terletak di sebelah barat Singapura dan Batam, Kepulauan Karimun berada di jalur pelayaran yang sibuk yaitu Selat Malaka. Sama halnya dengan Batam dan Bintan, Kepulauan Karimun merupakan bagian dari Zona Perdagangan Bebas Batam-Bintan-Karimun yang kini sedang giat-giatnya dikembangkan menjadi kawasan industri dan pariwisata.

Kepulauan Karimun berada di wilayah Kepulauan Riau (Kepri), ibu kota kabupatennya adalah Tanjung Balai. Tanjung Balai merupakan sebuah kota menengah yang sibuk dimana sebagian besar penduduknya adalah peranakan Tionghoa. Karenanya tak heran apabila di kota ini ditemukan sejumlah kuil dan salah satu yang tertua adalah Vihara Cetiya Vidya. Vihara yang berlokasi terletak di Jalan Jenderal A. Yani, Meral tersebut dibangun pada 1926. Di jalur jalan yang sama terdapat pula Vihara Bodhi Maitreya dan Vihara Sasana Diepa. Sementara itu, kuil tua lain yang terletak sedikit lebih jauh, tepatnya di Jalan Athena adalah Klenteng Tua Pek Kong.

Seiring pesatnya perkembangan sektor perdagangan dan investasi di wilayah ini, tidaklah mengherankan apabila Tanjung Balai kini menjadi lebih sibuk membangun dan membenahi diri. Namun begitu, kota ini masih mempertahankan karakter kehidupan pedesaan di daerah pantai. Akan tetapi, untuk menikmati kehidupan pedesaan di pulau tropis, Anda dapat pergi ke beberapa desa setempat di Meral atau Pasir Panjang.

Bagi Anda yang mencari lokasi rekreasi, Pulau Karimun menawarkan keindahan pantai berpasir putih yang panjang membentang, snorkeling, dan tentu saja hidangan sea food yang lezat, seperti ikan, kepiting, udang dan tiram yang masih segar sebab baru ditangkap dari laut. Dua pulau tujuan wisata yang populer adalah Terkulai danSorehPantai Palawan dan Pantai Pongkar menawarkan pantai berpasir putih yang ideal untuk olah raga air dan relaksasi di bawah pohon-pohon palem. Pulau Telunas di Karimun juga telah berkembang menjadi sebuah resort liburan dan merupakan tempat favorit tujuan para ekspatriat Singapura dan para pelajar. (Untuk info lebih lengkap, klik www.telunasbeach.com).

Untuk menuju Tanjung Balai Karimun, terdapat banyak feri yang menghubungkan kota ini dengan Singapura, Johor di Malaysia, Batam dan Bintan. Dengan makin banyaknya orang yang mengunjungi pulau-pulau di Kepulauan Karimun baik untuk tujuan perdagangan, investasi atau pariwisata, Karimun sekarang memiliki sejumlah hotel yang bagus.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Daftar Obyek Wisata Dan Budaya Bunguran Timur – Natuna

Daftar Obyek Wisata Dan Budaya Bunguran Timur – Natuna

Pantai Sejuba
Pantai Sejuba
Natuna-Sektor Pariwisata Kabupaten Natuna memiliki banyak potensi yang luar biasa, kabupaten ini memiliki panorama keindahan alam yang masih alami. Gugusan-gugusan pulau, terumbu karang, kehidupan satwa laut, gunung granit, air terjun, dan masih banyak lagi yang dapat di eksplorasi oleh wisatawan baik domestik maupun manca negara. Kekuatan karakteralam yang ada di Kabupaten Natuna sangat mendukung untuk masuk kedalam segmentasi ekowisata (ecotourism).
Terdapat dua jenis obyek pariwisata potensial yang dapat ditemui di Kabupaten Natuna, yakni:
1. Ekowisata
Kekayaan alam memang menjadi daya tarik utama sektor pariwisata Kabupaten Natuna. Beberapa bentuk ekowisata ini antara lain :
  • Panorama pantai.
  • Panorama Air Terjun
  • Pulau-pulau kecil
  • Panorama bawah laut dan terumbu karang
  • Panorama pegunungan dan perbukitan
  • Wisata konservasi flora dan fauna
2. Wisata budaya
Beberapa bentuk ekowisata ini antara lain :
  • Atraksi budaya
  • Wisata warisan sejarah dan budaya

Daftar obyek Wisata dan Budaya Kecamatan Bunguran Timur berdasarkan Jenis Wisata :
Jenis Wisata Pantai :
  • Pantai Tanjung
  • Tanjung Sani
  • Tanjung Pengadah
  • Pulau Kambing
  • Sebagul
  • Tanjung Sujung
  • Selemut
  • Tanjung Pasir
  • Tanjung Sebintang
  • Pian Padang
  • Cemaga
  • Setengar
  • Pulau panjang
  • Pendek
  • dan Senoa
Jenis Wisata Pantai Berbatu :
  • Batu Kapal
  • Tanjung Senubing
  • Batu Kasah
  • Batu Koan
Jenis Wisata Pulau :
  • Pulau Panjang
  • Pendek
  • Pulau Kambing
  • Pulau Sahi
  • Pulau Senoa
  • Pulau Kukup
  • Pulau Kemudi
  • Pulau
Jenis Wisata Terumbu Karang :
  • Pulau Senoa
Jenis Wisata Sungai :
  • Sungai Penarik
  • Sengkap
  • Silas
  • Curing
  • Segeram
  • Lebai
  • Semitan
  • Tanjung Kubur
  • Muara
  • Sungai Mitan
Jenis Wisata Danau/ waduk :
  • Danau Tapau
Jenis Wisata Gunung :
  • Gunung Ranai, Bedung, Selahang, Ceruk Bukit Kapur, Bukit Telegung
Wisata Batu :
Jenis Wisata Hutan :
  • Gunug Ranai
  • Bukit Liman
  • Gunung Bedung
Jenis Wisata Sejarah :
  • Rumah Datuk Kaya
  • Batu Rusia
  • Telapak tok Nyong.
Jenis Wisata Ziarah :
  • Keramat Batu Merah
  • Keramat Batu Sisir
  • Keramat Air Kumbik
Wisata air Terjun :
  • Air Terjun Gunung Ranai
  • Air Terjun Gunung Air Hiu Ceruk
Jenis Wisata Goa :
  • Batu Sindu
  • Pulau Senoa
  • Gunung Ranai
  • Senubing

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pulau Bawah

Pulau Bawah

SEBAGIAN orang akan menjawab Kepulauan Raja Ampat di Papua sebagai pulau yang indah untuk menyelam atau snorkeling. Kalau pun bukan Raja Ampat, sebagian akan berpendapat Bunaken adalah tempat yang terindah. 

Namun, tahukah Anda bahwa Pulau Tropis yang terindah di Asia terletak di Kabupaten Kepulauan Anambas, yaitu Pulau Bawah. 

Paling tidak pendapat itu disampaikan Managing Director event Boat Asia di Singapura, Herman Ho kepada CNN.com beberapa hari yang lalu. Pulau Bawah ini memiliki laguna yang dilindungi beberapa pulau di sekitarnya. 

Pulau Bawah disebut sebagai, Asia’s top five tropical island paradises. Laguna adalah semacam danau kecil atau tasik yg terjadi pada laut dangkal yang dikelilingi oleh beting karang atau gosong pasir yang menutup pesisir atau muara sungai. 

Ada laguna yang terbentuk dengan dikelilingi sejumlah pulau. Sehingga, keindahan alam bawah lautnya sangat indah sekali. Laguna seperti inilah yang ditemui di Pulau Bawah, Kabupaten Anambas. Ketika air laut sedang surut, gugusan pulau seperti akan saling tersambung oleh gundukan pasir serta karang, yang seperti membentuk pembatas antara air laut di dalam dan di luar gugusan pulau. 

Gugusan Pulau Bawah terdiri atas lima pulau, yakni Bawah, Sanggah, Murbah, Lidi, dan Elang. Semuanya tak berpenghuni. Formasi kelima pulau itulah yang membentuk laguna. Air laut di kawasan laguna sangat jernih. Dari atas permukaan air, kita bisa melihat jelas obyek sampai ke dasar laguna, termasuk ikan-ikan karang. Dasar laguna berupa pasir putih dengan sebaran terumbu karang di sejumlah titik. 

ulau terbesar dalam gugusan, yakni Pulau Bawah, berpantai pasir putih. Keindahan laguna di Pulau Bawah, Kabupaten Kepulauan Anambas itulah yang telah memesona Managing Director event Boat Asia di Singapura, Herman Ho. Kepada CNN.com, Herman menyatakan bahwa keindahan alam di Pulau Bawah yang berupa laguna, adalah yang terindah di Asia. Laguna indah yang diapit gugusan pulau kecil dinilai lebih indah dari pada empat pulau terindah di Asia lainnya. Keempat pulau lainnya itu, adalah Koh Cang dari Thailand, Langkawi di Malaysia, Teluk Halong di Vietnam dan Similand Islands di Thailand. 

Sebagaimana dikutip dari CNN, Herman mengatakan bahwa kumpulan pulau yang berada di timur Laut Indonesia ini merupakan tempat wajib untuk penggemar snorkeling dan diving. Salah satunya Pulau Bawah yang tidak berpenghuni menawarkan laguna yang alami dengan biru laut yang jernih dan keindahan karang-karangnya. 

Bila terus masuk ke dalam pulau yang menjadi salah satu rantai Anambas ini, Anda akan menemukan tempat yang seru untuk berpiknik dan menyatu dengan alam. ‘‘Ini jelas membanggakan dan kita di Kepri patut berbangga dengan apresiasi yang disampaikan Herman Ho di CNN tersebut, ‘‘ kata Chairman EMKA Tours & Events yang berkantor di Jalan Ahmad Yani No 14 Tanjungpinang, Sapril Sembiring menjawab Tanjungpinang Pos, Sabtu (20/12). Sapril yang sudah pernah berkunjung langsung ke Kepulauan Anambas dan ke Pulau Bawah, mengakui keindahan alam di Pulau Bawah sangat memesona. Sebagai pelaku usaha jasa wisata yang sudah acap berkunjung ke berbagai tempat wisata di Indonesia, Sapril menilai Pulau Bawah dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata bahari andalan Anambas dan Kepri. Sapril mungkin begitu terpukau dengan keindahan bahari di Pulau Bawah. Sehingga dalam salah satu tulisannya di blognya, Sapril mengatakan saat turun ke laut untuk ber “snorkling” mengapung dipermukaan laut dengan mata tertuju kepada biota laut dan karang karang yang berwarna warni dengan ikan-ikan kecil. Indahnya ikan bermain di rumput laut yang di hiasi karang karang menjadi pemandangan yang mengasyikan. 

Itu sebabnya, ujar Sapril, sehingga Herman Ho mengatakan Pulau Bawah adalah tempat wajib untuk penggemar snorkeling dan diving. ‘‘Saya sependapat dengan Herman. Pulau Bawah dengan lagunanya adalah tempat yang wajib dikunjungi bagi siapa saja. Tak hanya wisman tapi juga wisatawan domestik. Apalagi bagi penggemar snorkeling dan diving, ‘‘ jelas Sapril. (sigit rachmat)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Air Bini di Anambas

Air Bini di Anambas


ANAMBAS-Tidaklah salah bila dikatakan bahwa Siatan Selatan merupakan mutiara bintang dari selatan. Soalnya, wilayah ini memiliki potensi pariwisata yang masih perawan dan belum tersentuh. Begitu asri dan indahnya panorama alamnya, belum banyak wisatawan yang mengetahui keistimewaan pariwisata di Siantan Selatan. Satu diantaranya yakni Hutan Bakau di Air Bini yang luas dan tersembunyi ini merupakan potensi emas pariwisata Siantan Selatan bila saja dapat terkelola dengan baik. Camat Siantan Selatan, Burhanudin menuturkan hutan bakau yang luas dan merupakan muara sungai air bini merupakan memang belum tersentuh pariwisata sama sekali. Karena belum adanya jalan yang dibuka kesana. 

Disamping itu juga, kawasan ini tidak dimukimi oleh masyarakat. "Hutan bakau yang luas ini memang aset Siantan Selatan di Pusat Kecamatan. Namun jalan yang belum sampai ke muara ini menyebabkan tidak banyak pengunjung yang tahu keindahan hutan bakau ini. Tapi kalau jalan sudah sampai ke muara nantinya, katanya, akan banyak wisatawan ingin menikmati liku-liku air yang bisa dilewati pompong disini," katanya kemarin. Dia mengatakan indahnya alam hutan bakau ini tercipta karena tidak adanya pemukiman masyarakat di muara sungai tersebut. Akhirnya, bakau yang tumbuh di hutan bakau itu sendiri berkembang dengan baik. Meskipun sudah diambil oleh warga untuk berbagai keperluan, katanya, hutan yang luas ini tetap kembali tumbuh. Setiap hari terus bertambah setiap waktu. Disamping itu, katanya lebih jauh, masyarakat di Air Bini juga ikut serta menjaga hutan ini dengan baik. Dengan melihat pemandangan yang ada di hutan ini, katanya, pengunjung bisa menikmati hutan bakau ini selama ber jam-jam. Karena tingginya pohon bakau yang tumbuh, tambahnya, menyebabkan daerah ini sangat sejuk walaupun cuaca sangat panas. "Ini bakau yang sudah tua dan lama. Udara disini sangat sejuk. Air juga tawar. 

Untuk berwisata alam, wisatawan bisa menikmati pemandangan ini dalam waktu yang lama. Begitu juga dengan air cukup dalam. Aktivitas memancing, study lingkungan. Sangat cocok di hutan bakau ini,"terangnya Sepanjang perjalan dengan pompong, kondisi hutan Bakau ini menyediakan celah besar untuk berlayar kapal-kapal menuju air terjun air bini. Sedangkan ditengah-tengah hutan bakau, tersedia celah-celah kecil yang bisa di lalui oleh perahu kecil sejenis jongkong. Tinggi pohon bakau yang tumbuh liar ini beragam. Adanya hutan bakau ini menyebabkan air di sepanjang pantai bakau tersebut menjadi air tawar. Masyarakat mengharapkan agar hutan ini dapat terjaga. Dengan begitu, potensi wisata alam yang sudah tersedia ini bisa bernilai ekonomis bagi masyarakat Air Bini. "Kita harapkan hutan bakau ini dapat terjaga. Supaya bisa menjadi nilai ekonomis untuk masyarakat Air Bini.


 Wisatawan bisa menikmati keindahan bakau. Selain itu juga bisa menjadi study lingkungan tentang bakau nantinya,"tutur Bakhtiar salah seorang warga Air Bini. Potensi alam yang indah ini, memang tidak banyak dimiliki oleh pulau-pulau lain. Sementara Air Bini belum bisa dijangkau dengan cepat. Karena jalan yang ada belum keras. Masih setapak dan licin. Sehingga wisatawan lokal selalu menghabiskan akhir pekan di Objek Wisata Arung Ijau, Desa Tiangau, Siantan Selatan. Untuk yang ke Arung Ijau sudah di bisa dilalui kendaraan dengan baik. "Kendala wisatawan ke Air Bini ini hanya jalan saja. Karena belum ada pengerasan badan jalan. Kalau sudah mudah dilalui kendaraan roda dua. Wisatawan akan berduyun-duyun ke Air Bini ini. Karena memang ada potensi wisatanya,"tutur Bakhtiar (yul)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS